Menjadi Minangkabau Sejak Dalam Pikiran

Syuhendri Dt Siri Marajo
Syuhendri Dt Siri Marajo (Pamong Budaya Disbud Sumbar)

Lalu apakah yang di Miliki para tokoh asal Minangkabau, katakanlah seperti Bung Hatta, Tan Malaka, Natsir, Sutan Syahrir lalu Hamka dan sederatan nama besar lainnya. Sebagai anak Minangkabau yang nyaris menghabiskan hidupnya dalam pergaulan internasional. Tapi sejauh fakta-fakta yang terjadi hal itu tak menghilangkan identitas budaya Minangkabau yang melekat pada kedirian mereka.

Masa kecil yang tak seberapa lama dijalani di negeri leluhur, ayoman lingkungan keluarga tempat mereka bertumbuh yang juga tak panjang, seakan mereka tak sempat belajar banyak tentang negeri leluhur mereka. Minangkabau seperti tempat sekedar singgah dalam kehidupan mereka. Lalu apakah kondisi ini memudarkan identitas mereka sebagai wangsa Minangkabau. Jawabnya tentu saja tidak.

Tak terbayangkan masa kecil yang singkat yang lebih banyak dihabiskan dengan fase bermain di rumah gadang sehingga sang mamak tak mungkin sempat mewariskan silat atau menurunkan petatah dan petitih sampai fasih. Sebaliknya kesadaran terhadap pentingnya pengetahuan, alam takambang jadikan guru, mendorong para ayah dan mamak mengirim mereka ketempat tempat yang jauh tanpa takut anak mereka akan kehilangan rasa keminangkabauan dalam diri mereka.

Seorang Tan Malaka 11 tahun sudah hafal qur'an dan menyandang gelar datuk setelah sesaat singgah pulang dalam perantauan panjang. Demikian juga dengan Hatta, Natsir, Syahrir rantau pemikiran telah mematangkan dan mendewasakan keminangkabauan mereka. Karatau madang di hulu, babuah babungo balun.

Lalu adakah yang salah bila berbagai elemen pelengkap instrumen budaya dijadikan spirit untuk mengembalikan kejayaan Minangkabau, atau dijadikan sebagai alat untuk menjawab berbagai tantangan zaman yang sangat mencemaskan.

Kita harus kembali bersilat-silat, berpetatah petitih atau melenggok lenggok diatas panggung dengan menyandang label macam-macam, dari uda-uni, duta wisata, yang mutakhir adalah hadirnya duta budaya sebagai unggulan dinas kebudayaan yang praktiknya tak lebih kurang dengan iven- iven sebelumnya.

Atau mengumpulkan manuskrip-manuskrip tanpa memaknai, mendaftarkan berbagai warisan budaya tanpa memahami substansi pokoknya. Tidak tentu tidak ada yang salah dalam soal ini. Dia akan menjadi salah bila soal ini berhenti hanya sebatas proyek, proyek pemerintah. Jika demikian halnya ini semua hanyalah sebuah simulacra. Politik pencitraan.

Kesederhanaan Hatta saat berhenti jadi wakil presiden bahkan listrik rumahnya saja tak mampu dia bayar sehingga membuat murka seorang Ali Sadikin, Natsir yang tinggal di rumah sederhana disebuah gang sempit, Tan Malaka menghabiskan tenaga dan pemikirannya untuk bangsa, memilih merdeka tanpa jalan kekerasan demikian juga dengan Hamka dan Syahrir.

Pilihan sikap inilah yang ada dalam diri mereka dan menyatakan bahwa mereka adalah orang hidup karakter Minangkabau yang sesungguhnya. Mereka tak egois apalagi hedonis. Warisan egaliter yang mereka terima telah menjadikan mereka menjadi bagian dari masyarakat dunia dan nyaris melupakan kehidupan pribadinya.

Bercermin pada manusia Minangkabau hari ini yang besar dan berkuasa di tanah sendiri, tak ada lagi perantuan yang dijalani. Tapi mereka tak hebat jika tak punya jabatan, tak hebat jika tak pamer kekayaan tak hebat jika tak mahir dalam keculasan. Belajar silat sekedar jadi pendekar kebudayaan, menghafal petatah sekedar identitas kebudayaan. (*)


Syuhendri Dt Siri Marajo

Pamong Budaya Disbud Sumbar