Adat Minang dan Zaman yang Berubah

Syuhendri Dt Siri Marajo
Syuhendri Dt Siri Marajo (Pamong Budaya Provinsi Sumatera Barat)

Saya ingin memulai tulisan ini dengan satu pertanyaan, benarkah adat Minangkabau tak lapuk oleh hujan dan tak lekang karena panas? Ungkapan ini begitu sering terdengar keluar dari mulut banyak orang dalam diskusi-diskusi maupun dalam pembicaraan keseharian. Soal ini saya kira menarik untuk dijadikan bahan renungan.

Jika hal itu benar adanya, bagaimana cara kita memaknainya di tengah pertumbuhan dan perkembangan zaman yang tak bisa dicegah. Bagaimana para putra Minangkabau mengambil posisi ideologi diri dalam arus deras perubahan zaman. Sementara di sisi lain, bila ditilik dari pepatah lain justru dinyatakan,'sakali aie gadang, sakali tapian barubah'. Dua pernyataan yang sangat kontradiktif yang bersumber dari budaya yang sama. Kontradiksi ini menjadi daya tarik yang kuat untuk memahami makna di baliknya.

Budaya baru dan modern telah berkontribusi pada budaya Minangkabau ini sebuah kenyataan yang tak mungkin ditolak. Bila demikian adanya mungkinkah adat istiadat Minangkabau tak lagi dapat lagi dipedoman, tinggal cerita dan menjadi nostalgia masa lalu. Budaya lapau misalnya, dalam era kekinian telah beralih menjadi budaya cafe.

Secara substansi tak ada yang berubah, fungsinya tetap, digunakan sebagai wadah untuk bicara atau diskusi sambil ngopi. Bedanya di kafe bisa berleha-leha dalam waktu lama bahkan digunakan juga sebagai tempat untuk bekerja dan membuat tugas kuliah bagi para mahasiswa. Dan mungkin bagi sekelompok kecil tetap memfungsikan cafe sebagai lapau masa lalu, di samping makan minum juga ada pembicaraan seputaran masalah budaya dan adat, semoga saja.

Perubahan paradigma masyarakat dan lingkungan sosial telah menciptakan habitus-habitus baru. Laman-laman media sosial telah menjadi ruang yang maha luas, yang membawa kita pada pergaulan dunia nyaris tak berbatas. Semuanya dapat direspon dan diserap. Lalu masih adakah tatanan adat atau ajaran adat pada dunia maya yang maha luas itu.

Jikapun ada akankah semua ajaran itu akan terpakaikan dalam praktik berbudaya. Bila dalam kehidupan nyata saja segala ajaran adat sudah menipis, bagaimana halnya di dunia maya. Lalu apakah adat-istiadat masih efektif sebagai pengikat kesadaran sosial di tengah peradaban yang terus berlari.

Mampukah ia menjadi penguat pemikiran ideologis, sebagai landasan kultural. Ungkapan tak lapuk dek hujan tak lekang oleh panas sebagai landasan ideologos, sakali aie gadang sakali tapian berubah menjadi pedoman dalam rangka sosial kemasyarakatan berkelindan, dalam tali adat Minangkabau.

Kedua persoalan ini cenderung tak sejalan, dalam arus peradaban zaman. Soal ideologi kadang berhenti pada teori dan retorika, mengesankan seolah negeri ini masih melaksanakan adat istiadatnya dengan baik. Sisi lain berbagai persoalan sosial kemasyarakatan tumbuh begitu pesat, dalam keluarga, kantor, pasar, desa dan kota serta lingkungan pergaulan lainnya, cenderung menumbuhkan budaya baru dalam prilaku yang berubah, bahkan tak lagi sejalan dengan tatanan yang ada.

Lalu dalam percaturan peradaban yang sedemikian rupa percepatannya, apakah adat dan budaya Minangkabau masih aktual dan kontekstual mengikuti zamannya. Soal ini akan menarik menjadi diskusi dan perbincangan bersama, mungkinkah adat Minangkabau akan jadi nostalgia saja, tak lagi aktual dalam berbagai perubahan kehidupan yang ada.

Atau yang terjadi sebaliknya, adat istiadat kita justru semakin kokoh sebagai pegangan bagi anak kemenakan dalam menyusuri rimba raya peradaban. Bagaimana kita menjawabnya. Mari, sauak aie mandikan diri, kita berkuyup menyigi makna yang belum benderang di makna, nan belum terpahamkan di hati. (*)

Padang, Awal Februari


Syuhendri Dt Siri Marajo

Pamong Budaya Provinsi Sumatera Barat