Keminangkabauan Kita

Syuhendri Dt Siri Marajo
Syuhendri Dt Siri Marajo (Pamong Budaya Disbud Sumbar)

Sebenarnya apa yang mencirikan kita ini sebagai wangsa Minangkabau? Pertanyaan ini muncul dari banyak kalangan sebagai ungkapan kegalauan terhadap adat Minangkabau yang dianggap tak lagi penting untuk dipahami dan cenderung terabaikan (apalah lagi akan terpakaikan).

Untuk menangkap dan menjawab kegelisahan ini banyak hal yang telah diupayakan oleh banyak kalangan, di antaranya kegiatan seminar kebudayaan. Dan di lembaga resmi yang dianggap punya wewenang penuh dan punya defenisi yang dapat jadi acuan, melihat bimtek (bimbingan teknis) kepada perangkat adat dalam lembaga-lembaga resmi dan perayaan (festival budaya) sebagai program yang tepat.

Lantas sudahkah menjawab kegelisahan kita? Ini agaknya masih jauh panggang dari api, bila kita masih memberlakukan kebudayaan Minangkabau sebatas objek. Bukan tak disadari bahwa beragam upaya dan niat baik telah dilakukan untuk mendefenisikan diri dan budaya kita.

Masih segar dari ingatan, bagaimana upaya melestarikan budaya Minangkabau, salah satunya, dengan mencanangkan kembali berbahasa Minang, yang dimulai dari komunitas terkecil yakni keluarga, organisasi, dan masyarakat. Bahkan kalau dapat pada momen-momen resmi acara pemerintahan di Sumatra Barat penggunaan bahasa Minang ini juga harus diterapkan.

Lalu apakah gagasan ini efektif atau mampu menjawab persoalan dan mengukuhkan identitas keminangkabauan itu. Ternyata tidak. "Pemaksaan" ini membuat kita makin gagap dengan identitas dan kedirian kita, seakan memaksakan sesuatu yang sebenarnya tak pernah hilang namun tak disadari kehadirannya.

Langgam kita berbahasa Indonesia masih kentara lidah Minangnya, sementara dalam usaha untuk menggunakan bahasa Minang itu sendiri, langgam itu cenderung hilang di lidah kita. Kita merasakan situasi yang serba canggung ketika sesuatu yang masih terpakai dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar masyarakat adat, dikampanyekan untuk masuk ke dalam sektor formal, dilakukan oleh mereka yang telah berjarak dengan tradisi asal.

Cermatilah dengan baik apakah siaran berbahasa Minang di berbagai media, baik televisi maupun radio memberikan kenyamanan pada telinga kita yang mengenal bahasa Minang dalam keseharian? Ternyata tidak.

Ujaran itu meluncur dari mulut pembawa acara dengan intonasi dan struktur bahasa Minang yang kacau bahkan sesekali bercampur dengan selipan bahasa Indonesia yang aneh kedengarannya di telinga. Apalagi bahasa Minangkabau juga memiliki ragam bahasa baik secara dialek maupun pemaknaan yang belum tentu sama, dan tak satu pun dari dialek sub-kultur Minangkabau itu yang terwakili.

Bahasa dipandang sebagai sebatas skill, yang tak terkait dengan prilaku dan struktur mental pemakainya, sehingga terdengar sebatas hapalan yang dilafazkan dengan kegagapan. Bahasa seyogyanya adalah pengucapan jiwa dan ideologi budaya, terinternalisasi ke dalam diri penuturnya, ia mengandung nilai-nilai kultural yang padu yang tak bergeming oleh apa yang berkembang di lingkungan luar.

Laiknya ikan di lautan, samudra manapun yang direnanginya tak mampu menggarami dagingnya. Mengubah rasanya menjadi asin. Adat akan selalu bersemayam dalam diri pemakainya sebagai sebuah ideologi diri. Jadi bukan persoalan performasi, tapi masalah esensi. Konstruksi pemikiran dichotomis yang menghinggapi sikap mental kita, membuat kita tak lagi melihat adat sebagai sebuah konsep hidup yang natural, berjalan mengikuti zaman, bukan yang ditinggalkan ketika zaman berubah: Adaik dipakai baru, baju dipakai usang.

Ia terpakaikan dalam kehidupan. Tindakan 'revitalisasi' melalui berbagai peristiwa budaya dengan mengkontruksinya menjadi iven dan perayaan, kemudian kita nikmati sebatas peristiwa panggung, membuat kita hanya menempatkan diri sebagai penikmat, dan pelaku performance sebagai penyaji, kesakralan hilang, sebuah siklus kebudayaan menjadi berjarak dengan pemiliknya. Demikian juga berbagai objek budaya dengan berbagai alasan pemajuan tak lagi melekat pada masyarakat pengguna. (*)


Syuhendri Dt Siri Marajo

Pamong Budaya Disbud Sumbar