Gerbang Sukses Dunia Wasit

Rezki
Rezki (Dosen Prodi Penjaskesrek FKiP UIR)

Salah satu yang termaktub dalam UU RI No. 3 Tahun 2005 Bab X pasal 63 ayat 1 sampai 4 tentang Sistem Keolahragaan Nasional yaitu seorang wasit. Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu pertandingan olahraga.

Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris dikenal referee, umpire, judge atau linesman. Istilah wasit dalam Bahasa Inggris Referee berasal dari sepak bola. Awalnya kapten dari setiap tim saling berkonsultasi untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di lapangan. Kemudian peran ini didelegasikan kepada seorang umpire.

Setiap tim membawa umpire-nya masing-masing sehingga masing-masing kapten tim dapat berkonsentrasi kepada permainan. Akhirnya, seorang yang dianggap netral dinamai referee (dari would be "referred to") bertindak sebagai orang yang akan menyelesaikan permasalahan jika umpire tidak bisa menyelesaikannya. Referee tidak berada di lapangan sampai 1891, ketika umpire menjadi linesman (sekarang asisten wasit).

Untuk menjadi seorang wasit harus melalui yang namanya penataran atau pelatihan. Ibarat untuk dapat izin mengemudi seorang sopir harus memiliki SIM. Begitu juga seorang wasit, juga harus memiliki SIM yang didapatkan saat penataran atau pelatihan.

Kalau lulus pelatihan maka seseorang mendapatkan izin menjadi wasit secara resmi. Tingkat pelatihan wasit diawali dari tingkat kabupaten dan provinsi (lisensi daerah) dan tingkat nasional lisensi nasional. Salah satu cabang olahraga yang membutuhkan wasit yaitu tenis lapangan.

Tingkat pelatihan wasit tenis di Indonesia dimulai dari lisensi daerah kemudian nasional dasar, nasional dan international. Masing masing tingkatan ada penataran atau pelatihannya. Bagi yang aktif diperwasitan maka mereka akan bersemangat untuk sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Namun tentu semuanya diawali dengan penataran wasit daerah.

Pada lisensi daerah peserta di berikan pemahaman materi dan banyak praktek. Dikarenakan peserta penataran masih baru sebaiknya dibiasakan menjadi wasit. Dengan praktek yang banyak maka setelah selesai penataran atau palatihan peserta tersebut bisa mengikuti perwasitan dan menjadi seorang wasit. Karna inilah titik awal untuk bisa lanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Sehingga penataran wasit tenis daerah merupakan pintu memasuki dunia perwasitan.

Salah satu penataran wasit tenis lapangan lisensi daerah pada tahun 2019 di Kabupaten Kampar melahirkan puluhan wasit bagi Pelti Riau. Pelatihan ini memberikan masukan kepada calon wasit, sehingga wasit bisa lebih bertanggung jawab dengan tugasnya diantaranya sebagai berikut: a) Melakukan calls lines ketika wasit garis tidak ditugaskan b) Menugaskan wasit garis; c) Memberikan instruksi pemain di lapangan;

d) Menyebutkan skor; e) Mengamati perpindahan tempat pemain; f) Menulis skor g) Pengskoran pertandingan h) Membuat keputusan dalam kesalahan yang terjadi i) Menentukan hukuman pada pemain yang melanggar j) Calls pengulangan servis maupun pertandingan; k) Calls foot faults l) Calls service lets m) Memberikan tanda dan pemberitahuan saat bola menyentuh batas garis lapangan n) Melakukan calls pada berbagai macam pelanggaran.

Apabila semua ini dipahami dengan baik serta setelah selesai pelatihan maka wasit tinggal bagaimana mengasah mental memimpin pertandingan sebenarnya. (*)


Rezki

Dosen Prodi Penjaskesrek FKiP UIR