Lebaran Bersama COVID-19

Saparuddin
Saparuddin (Ketua Umum KIPPDA Pasaman 2016-2019)

SETELAH melaksanakan puasa selama satu bulan, kini bagi umat muslim di dunia merayakan hari raya Idul Fitri. Hari raya Idul Fitri merupakan satu kesatuan dari siklus tahun hijriyah sebagai tradisi umat Islam. Hari raya selalu menciptakan sesuatu yang unik, setiap daerah mempunyai kekhasan tersendiri cara bagaimana mengemas hadirnya hari raya.

Idul Fitri ini dalam masyarakat kultur Jawa disebut dengan syawal. Saya kira tidak masyarakat Jawa saja, akan tetapi masyarakat di luar suku Jawa juga menyebutnya Syawal.

Hadirnya Idul Fitri ini juga digunakan sebagai ajang silaturrahmi dengan sanak keluarga. Baik yang dekat, maupun yang jauh. Dan banyak keluarga yang menjadikan momentum hari raya ini sebagai titik balik untuk mudik ke daerah asal bagi mereka yang merantau ke daerah-daerah tertentu.

Namun, kegembiraan Idul Fitri tahun 2020 ini, terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Seluruh umat muslim merayakan hari kemenangan di tengah pandami COVID-19. Ada tamu tak diundang yang telah menemani kita selama Ramadan, bahkan beberapa bulan kedepannya.

Pemerintah Indonesia meresponnya dengan menyatakan status Bencana Nasional dan kemudian mengeluarkan aturan sosial distancing (diubah jadi physical distancing) guna mencegah penularan lebih masif. Kampus dan sekolah-sekolah mengalihkan proses belajar menjadi sistem daring, PSBB dan melarang mudik ke daerah asal, sejumlah perusahaan dan instansi menugaskan karyawan atau pegawainya untuk bekerja dari rumah. Dunia seakan "diistirahatkan" dengan adanya pandemi Covid-19 ini, manusia tidak dapat beraktivitas seperti biasanya.

Hal itu tentunya juga berdampak terhadap tradisi dan kebiasaan di hari raya Idul Fitri. Jika biasanya umat muslim melakukan silaturrahmi ke rumah-rumah tetangga, keluarga dekat dan jauh. Kali ini terpaksa dilakukan tanpa berkelompok, hanya bersama anggota keluarga inti, di rumah masing-masing, Alternatif secara virtual dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai media seperti WA, hingga perangkat digital termasuk media sosial. Walaupun tidak saling mengunjungi dan bertatap muka langsung, tidak akan mengurangi hakikat Idul Fitri tersebut, langkah-langkah itu dilakukan untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 harus dilaksanakan.

Menghayati kembali tujuan satu bulan berpuasa

Tapi jika masyarakat kita lebih suka mengartikan hari raya Idul Fitri sebagai "hari kemenangan", meski kita merenungi apa maksud dari kemenangan. "Menang" diartikan bahwa kita mampu menahan diri selama sebulan, mengendalikan diri agar tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa walau hukum asal hal-hal tersebut adalah boleh. Ya, merayakan hari raya kemenangan karena kita berhasil " mengalahkan diri sendiri" selama sebulan, hal ini tidak akan mengurangi tujuan dari puasa itu, walaupun kita dalam puasa tahun ini di masa-masa pandemi COVID-19 dan banyak daerah yang melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Kita ingat-ingat kembali juga, apakah tujuan kita besusah payah berpuasa selama sebulan? Kalau kita murni memikirkan secara logika, jika puasa tidak membuat menjadi pribadi yang bertaqwa, apakah kita termasuk yang disebutkan dalam hadis" betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali lapar dan dahaga"(HR.At Thabraini).

Mari diingat-ingat kembali tujuan kita berpuasa, lalu mengevaluasi diri. Dan jika terasa belum, bahkan terasa masih jauh, maka berusahalah. Berusaha dan bermujadalahlah/bersungguh-sungguhlah sebelum nyawa mencapai tenggorokan.

Pendidikan puasa selama sebulan akan terlihat hasilnya di bulan-bulan berikutnya, semenjak dikumandangkan takbir pertanda masuk bulan Syawal waktunya pembuktian. Apakah dari puasa sebulan yang lalu ada perbaikan yang didapatkan, atau hanya lapar dan haus, itu semua dibuktikan dibulan-bulan berikutnya.

Hakikat Idul Fitri

Hari raya ini pada hakikatnya adalah merupakan sebuah titik balik untuk mensucikan diri, memang tidak berarti harus suci sesuci sucinya, akan tetapi, bisa dimaknai bagaimana diri yang selama ini banyak berbuat sesuatu yang tidak baik, mampu dilebur atau dijadikan media kearah yang baik, bahkan lebih baik dari sebelum-belumnya.

Tradisi hari raya di daerah saya adalah dinamakan dengan hari raya keberapa hari tersebut jatuh. Misalnya hari raya ke satu, artinya adalah hari raya ke satu sampai seterusnya, tanggal satu Syawal sampai pada tujuh Syawal ini bisa ditandai saling berkunjung ke sanak saudara, tetangga dekat, dan juga para guru-guru. Bagi tempat yang dikunjungi sudah disediakan berbagai macam aneka ragam makanan.

Idul Fitri membawa kebahagian tersendiri bagi anak-anak selain baju, sandal dan sebagainya serba baru, mereka biasanya mendapatkan salaman tempel atau sering di sebut juga amplop, uang saku bagi anak-anak.

Menguarai arti Idul Fitri, Quraish shihab mengartikan bahwa ID berarti Kembali dan FITHR dapat diartikan agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Kalau umat Islam memahaminya sebagaimana agama yang benar, maka hal itu menuntut keserasian hubungan karena keserasian hubungan tersebut merupakan tanda keberaagaman yang benar.

Hari raya Idul Fitri hakikatnya bukan untuk orang-orang yang berpakainnya hanya baru saja, akan tetapi yang lebih dari itu adalah bertambahnya ketaatan bagi orang yang benar-benar menjalankan ibadahnya di waktu itu. (*)


Saparuddin

Ketua Umum KIPPDA Pasaman 2016-2019