#dirumahsaja Tetap #nulispuisi

Yeni Purnama Sari
Yeni Purnama Sari (Penyair Sumatera Barat)

KITA menghadapi beragam rupa kecemasan, ketika muncul wabah yang menjalar begitu cepat. Dalam hitungan minggu, ia menyebar ke segala penjuru. Kemudian menjadi pandemi. Tiba-tiba, dunia yang luas ini terasa sempit. Terpisah oleh sekat-sekat. Segala aspek kehidupan menjadi terdampak. Sekolah-sekolah tutup. Ruang kerja dan kantor-kantor ditinggalkan. Gang-gang pasar lengang. Pintu-pintu rumah ibadah terkunci. Gedung-gedung pertunjukan membisu. Rencana-rencana yang telah disusun di awal tahun mesti dirombak habis-habisan. Pertemuan-pertemuan dibatalkan. Orang-orang menepi dari kerumunan. Membangun bilik bersendiri. Kemudian belajar mengakrabi sunyi.

Roda kehidupan mesti terus berputar. Meski tersendat-sendat. Orang-orang diminta beraktifitas, bekerja, dan belajar dari rumah. Tak terkecuali bagi para pegiat seni, penulis, termasuk penyair. Jika pertanyaannya, dapatkah puisi tercipta meski di rumah saja? Pertanyaan ini menjadi penanda bahwa pembahasan ini akan mengerucut pada hal seputar puisi, kepenyairan, dan proses kreatif selama masa pandemi.

Ruang Renung, Bilik Sunyi Penyair

Pada dasarnya, dunia penyair adalah dunia bersunyi-sunyi. Katakanlah begitu. Ketika seseorang hendak menulis puisi, ia mesti masuk ke bilik paling hening dalam diri. Bilik hening itu, ruang renung bagi setiap pergulatan pikiran. Puisi adalah pertanyaan sekaligus jawaban. Merupakan buah sekaligus benih renungan. Dengan kata lain, puisi yang selesai ditulis merupakan hasil renungan yang ketika dibaca, ia pun dapat menjadi pintu untuk memasuki ruang renung-ruang renung yang lain. Dan, mestinya begitu.

Ketika pada masa pandemi ini kita diminta tetap diam di rumah, akankah ini membuat kita berhenti menulis puisi? Kenyataannya, puisi-puisi tetap saja ditulis. Kita masih dapat membaca puisi-puisi yang terbit di media setiap minggu. Bahkan banyak sekali undangan menulis puisi bersama-sama, untuk kemudian dibukukan. Ini menunjukkan bahwa proses kreatif menulis puisi itu tetap terus berjalan. Alih-alih mematikan kreatifitas, musim pandemi ini justru memberikan semacam tema besar yang tak habis-habis digali. Kita seakan menemukan banyak hal untuk ditulis. Bagaimana kehidupan menjadi sangat berbeda di setiap sudutnya, menjadi sebentuk daya sentak di alam pikir. Membuka pintu-pintu renungan dalam diri.

Jika pada masa sebelum pandemi, kita terbiasa berjalan keluar diri. Bertemu orang-orang. Mendengarkan keluh-kesah di setiap sudut jalanan. Berkumpul dan berdiskusi sambil ngopi. Dari perjalanan keseharian itu, kita menemukan sebuah gagasan, sudut pandang, ataupun objek perenungan untuk mencipta sebuah puisi. Maka ketika mesti di rumah saja, tentu akan ada yang berubah dalam proses kreatif tersebut.

Beruntunglah kita hidup pada zaman di mana jarak bisa ditebas sedemikian pepat. Melalui gawai di genggaman, informasi dari seluruh penjuru dunia mengalir begitu deras. Dari realita kehidupan yang sesuai dengan fakta, hingga sesuatu yang dibumbui hoax. Kita bisa mengakses berbagai hal sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, kita tetap bisa menemukan gagasan atau ide untuk menulis. Coba buka jendela, duduklah di beranda. Saksikan lalu-lalang orang-orang. Dengar keluh-kesah tetanggamu, temanmu, kekasihmu, ibumu. Apa yang menjadi kegelisahan mereka selama pandemi melanda. Sekali lagi, semua itu dapat menjadi objek perenungan. Sebagai jalan menemukan gagasan dan ide tulisanmu. Puisimu.

Selain itu, kamu juga dapat menemukan gagasan ataupun meningkatkan wawasan seputar proses kreatif menulis puisi melalui diskusi virtual. Begitu banyak undangan diskusi seputar kepenulisan yang diadakan oleh komunitas menulis, penerbit, bahkan yang digawangi langsung oleh penyair-penyair besar. Seperti halnya dilakukan salah seorang Penyair Indonesia yang sudah terbilang maestro di bidangnya, Hasan Aspahani. Ia rutin menayangkan siaran langsung di akun IG miliknya @juru.baca, ngobrol seputar proses kreatif termasuk perihal teknik menulis puisi. Di sana kamu bisa mengajukan pertanyaan, dan akan dijawab dalam sesi tanya-jawab.

Penerbit indie seperti Purata misalnya, selama masa pandemi ini membuka ruang diskusi rutin via WAG yang bisa diikuti secara gratis. Yang lebih intens lagi, kamu juga bisa mengikuti kelas menulis puisi baik yang gratis maupun berbayar. Dan yang lebih mutakhir, diskusi kepenulisan dapat dilakukan secara virtual via Zoom, di mana kamu bisa berkomunikasi langsung dengan pemateri dan peserta diskusi sambil menatap wajah mereka di layar ponsel pintarmu.

Sejarah mencatat, sejumlah karya besar terlahir pada masa wabah melanda. Shakespeare menulis mahakaryanya "King Lear" ketika wabah pes merebak. Ia mengkarantina diri, dan menulis kisah ini dalam keadaan depresi. Teori gravitasi-nya Isaac Newton juga terlahir di masa-masa karantinanya menghindari keganasan wabah black death. Perlu diingat bahwa pada masa itu belum ada internet.

Kita tidak dapat menafikan, betapa pandemi ini telah merenggut tawa jutaan manusia. Fakta-fakta mengenai dampak wabah ini membuat kita bergidik. Kita mencemaskan finansial, kesehatan, hubungan. Namun, apakah pandemi ini semata-mata hanya membawa dampak buruk? Tugas penyair barangkali menemukan sisi lain itu. Menemukan sudut pandang baru. Menilai suatu hal dengan cara berbeda. Dalam proses mendapatkan itu semua, ia mesti berusaha terus meningkatkan intensitas berpikir, mengasah kepekaan, membangun empati dan kepedulian, serta terbuka pikiran untuk menumbuhkan kesadaran imaji dalam menangkap fakta-fakta tersebut dari sudut berbeda.

Sungai Penuh, 6 Juni 2020


Yeni Purnama Sari

Penyair Sumatera Barat