Membaca (Lagi) Radjab: Otokritik untuk Minangkabau

Deddy Arsya
Deddy Arsya (Pengajar Sejarah di IAIN Bukittinggi.)

SAYA membaca lagi M. Radjab. Tepat di bulan ini, 107 tahun kelahirannya, yang beberapa hari yang lalu diperingati secara sederhana dengan diskusi.

Saya akan membicarakan tiga bukunya yang terutama: otokritik kepada Minangkabau—tempat di mana dia lahir dan berasal. Cercaan, kata setengah orang yang merasa tersinggung. Berak di belanga emak, kata setengah yang lain dengan lebih tajam.

Semasa Kecil di Kampung, yang terbit pada 1950, tentu bukan dimaksudkan sebagai bacaan anak-anak sekalipun penerbit Balai Pustaka pernah membuatnya dalam bentuk serial bagi kalangan pembaca yang itu. Buku ini justru kritik yang menohok untuk orang dewasa Minangkabau.

Kalangan agama bisa jadi akan dibuatnya terhenyak:

Sorban-sorban mereka yang besar dan kebiasan mereka beristri banyak. Pengetahuan yang berkembang di tataran mereka mengenai bumi yang tidak bulat, tetapi terhampar bagai lapangan bola. Pembelajaran di surau-surau mereka yang hanya menghafal seperti lebah dan membunuh-mati pikiran kreatif. Untuk apa mempelajari bab 'tayamum' berlama-lama, demikian Radjab menulis, padahal di negeri kita air berlimpah di mana-mana.

Para pengagum adat bisa jadi juga akan dibuatnya gusar:

Matrilinial tak lebih dari perayaan atas materialistik, begitu katanya kurang-lebih. Perantau-perantau pulang di hari-hari lebaran memamerkan keberhasilan—yang berarti kekayaan. Mereka itu, yang kebanyakan adalah pedagang, "melagaklah, mundar-mandir didjalan kampung, dalam sehari empat kali berganti pakaian, supaya diketahui orang semua jang tersimpan didalam kopornja." Ada yang "berarlodji emas, antara sepuluh menit mengeluarkan arlodji dari kantongnja ... hendak memperagakan arlodjinya." Setengah ada yang bergigi emas, sebentar-sebentar tertawa. Mereka itulah yang menjadi pujaan bagi ibu-bapak-mamak gadis-gadis, begitu tulis Radjab.

Jika kita teruskan membaca Radjab, kesan menjengkelkan akan kita dapatkan dari mentalitas masyarakat Minangkabau yang diceritakannya dalam buku ini. Mentalitas masyarakat macam apa itu yang hidupnya hanya untuk mempersunting gadis-gadis cantik, yang ingin kaya semata, yang cita-citanya hanya jadi pedagang berharta banyak, yang larut dalam pamer kesuksesan setelahnya, dan menilai manusia dari benda-benda.

Buku itu memang berbicara tentang masa-masa 1913-1928, suatu masa di mana ekonomi-uang tengah menjalari Minangkabau sampai ke dusun-dusun dan modernitas-kolonial berhamburan masuk hingga ke bilik-bilik.

Bukunya yang lain, Catatan di Sumatra, yang terbit pertama kali pada 1950 juga, berbicara tentang zaman yang berbeda. Semacam reportase yang tulisnya sepanjang perjalanan keliling Sumatra, Malaka, dan Singapura pada 1947 sebagai wartawan yang diikutkan Kementerian Penerangan.

Isinya lebih menohok lagi.

Minangkabau di masa darurat perang itu, dalam buku tersebut, tak jauh berbeda dengan di awal abad ke-20 dalam buku sebelumnya, tetap 'tergila-gila pada wang'. Kampung-kampung, kata Radjab, penuh diisi "orang-orang tua mata duitan". Di Luhak Limopuluh, anak gadis yang baru tamat SMP dikawinkan dengan pencatut kaya yang hitam buruk, karena nenek dan ibu gadis itu "ingin menambah harta bendanya ... kerapkali datang ke rumah cucunya, meminta uang, pakaian, perabot rumah dari besar sampai kepada yang kecil dan semua barang itu diangkutnya ke kampungnya," tulis Radjab. Di Solok, seorang perempuan dipaksa minta cerai dari suaminya oleh ibu dan neneknya yang mata duitan karena si suami telah jadi miskin.

Laki-laki Agam banyak yang berotak tumpul, kata Radjab lagi di halaman yang lain.

Sekalipun orang-orang di Koto Gadang telah dapat mengikuti pembicaraan tentang dunia modern, tetapi pikiran mereka masih belum merdeka, "ditindih oleh tradisi, cara nenek moyangnya berpikir".

Orang-orang di Payakumbuh tak punya inisiatif. Lesu. Tak punya jiwa hidup. Sampah-sampah berserakan di mana-mana. Orang gila dan senewan banyak. Kota itu kota paling kumuh yang pernah dikunjunginya. Payakumbuh tak lain dari 'Payakumuh'.

Di Sungai Puar, dia mengunjungi tiga orang datuk (kepala suku) setempat secara berurutan: datuk satu berbini tiga dengan sebelas anak yang dua-tiga di antaranya tidak teringat lagi namanya oleh beliau; datuk dua sibuk dengan katitiran dan adu burung; datuk yang terakhir dia temui melamun berkelumun selimut memeluk lutut nyaris sepanjang hari di lepau kopi. "Apakah penghulu itu boleh dipandang ahli waris kebudayaan purbakala yang tinggi?" tanya Radjab sangsi.

Sementara di sepanjang jalan dari Bukittinggi sampai ke Padangpanjang dilihatnya tidak ada yang berubah dari masyarakat Minangkabau. Pakaian, tingkah laku, kebiasaan, juga pikiran-pikiran dalam buah percakapan. Jiwa sebagian dari mereka itu tetap kuno. Membeku. Pengetahuan mereka tidak bertambah banyak. Sedang bangsa-bangsa asing sibuk berlomba-lomba menuntut ilmu keduniaan, teknik, ekonomi, politik, kebudayaan, sport, dan lain sebagainya, sementara orang-orang di Minangkabau "masih tidur seperti bangsa-bangsa Eropa di zaman kegelapan sebelum abad-abad pertengahan". Apa yang dipejari pemuda-pemudanya serba sedikit, serpih-serpih ilmu belaka, tidak mendalam. Karena itu, tulis Radjab pula, "pikiran mereka tidak bertukar-tukar dengan yang baru, selain yang lama-lama juga. Bila kita mendengarkan percakapan mereka mutunya tidak lebih tinggi daripada waktu sepuluh tahun yang lalu," yang semua itu sudah layak "dimasukkan ke dalam museum."

Kesimpulannya, suku bangsa seperti Minangkabau, yang selalu membanggakan kebudayaan purbakalanya yang tinggi, yang memuji-muji adatnya yang sempurna itu, tak lebih dari "suatu organisme yang telah tua, telah penyakitan dan lemah, untuk menyertai perlombaan hidup di gelanggang ekonomi, politik, dan kebudayaan pada waktu pancaroba ini."

Hampir dua dasawarsa setelah dua buku di atas itu terbit, pada akhir tahun 1969, Radjab menulis buku tipis, Sistem Kekerabatan di Minangkabau. Judulnya tidak semenarik dua buku sebelumnya, sebuah kertas kerja akademis, tetapi isinya bukanlah abstraksi-abstraksi teoritik semata. Lagi-lagi, itu semacam otokritik bagi Minangkabau yang lebih langsung menusuk tajam ke jantung matrilinialnya: rumah gadang.

Hidup di atas rumah gadang, tulis Radjab setelah mengobservasi 103 rumah gadang di Sumpur (kampung halamannya di tepi danau Singkarak itu) memungkinkan iri-dengki tumbuh, perselisihan diam-diam terjadi, dan silang-sengketa yang tak habis-habis. Sekalipun pada zahir tampak rukun bermanis muka, tetapi pada batin bergejolak permusuhan tak berkeujungan. Kebahagian di rumah tangga jika sudah begitu menjadi tidak ada lagi.

Dalam sistem ini pula, di rumah gadang ayah tak lebih dari semenda, tamu. Ini memungkinkan anak-anak tidak dapat menganggap ayahnya sebagai ayah sepenuhnya, hubungan mereka tidak pernah benar-benar mesra dan rapat, yang sebagai akibatnya kecintaan ayah kepada anak-anaknya kecil saja. Apalagi jika si ayah sudah beristri baru lagi (yang sangat memungkinkan seorang laki-laki berpoligami dalam sistem ini terutama jika si laki-laki kaya dan terpandang pula). Ketika Radjab menulis bukunya ini, dibanding daerah-daerah lain, Minangkabau memang yang terbanyak laki-laki menjalankan poligami. Implikasinya telak tidak hanya kepada si istri, tetapi juga kepada anak-anak mereka. Sikap si ayah kepada anak-anaknya sebagaiman kepada ibu mereka, kata Radjab, tidak menyayangi lagi sepenuh perasaannya dan perasaan cintanya itu "tidak sangat mendalam". Selain itu, jika si ibu sudah punya madu, jarang terjadi keakuran di antara para mereka, itu juga berimbas kepada hubungan di antara anak-anak yang berlain ibu itu.

Hidup di bawah sistem matrilinial, tulis Radjab lagi melanjutkan kritiknya, juga cenderung tidak memberi kesempatan dan dorongan kepada tiap orang untuk mengembangkan dirinya sebagai individu yang bebas-merdeka seluas-luasnya. Hidup dalam lingkungan sosial-ekonomi komunalistik macam Minangkabau mematikan sikap bebas, keberanian moril, dan kepercayaan atas kesanggupan sendiri. Orang-orang selalu mengharapkan bantuan dari mamak-mamaknya, kaum-kerabatnya, orang-orang sekampungnya, tiap kali terbentur kesempitan. Hal ini membuat sebagian orang Minangkabau terbiasa "tidak percaya pada kesanggupan tenaga dan akalnya sendiri," demikian Radjab.

Lalu apa artinya Radjab bagi kita sekarang?

Otokritik Radjab terasa menemukan gema lagi kini. Ketika perjalanan sejarah masyarakat ini dievaluasi lagi. Minangkabau semakin eksklusif, kata Azyumardi Azra. Semakin terbelakang, "lebih kadrun dari kadrun" kata Ade Armando dengan agak kasar. Semakin jadi fundamentalis dalam hal adat maupun agama, kata yang lain. Semakin intoleran, kata satu hasil survei. Semakin tidak bahagia, kata survei yang lain. Pada titik ini, kita mungkin perlu membaca-baca Radjab lagi kini. Sambil terus bertanya-tanya, apa memang demikian adanya? Lalu jika sudah begitu harus bagaimana masyarakat ini—dengan sejarah purbakala yang gilang-gemilang itu—dapat terus menempatkan diri dalam gelanggang masa kini yang semakin tanpa batas?

Pandai Sikek, Juni 2020


Deddy Arsya

Pengajar Sejarah di IAIN Bukittinggi.