Bahasa Indonesia di Australia Dulu, Sekarang dan Prospek Mendatang

Drs. Gusrizal Dt. Salubuak Basa
Drs. Gusrizal Dt. Salubuak Basa (Pengajar Bahasa Indonesia di Australia dan Tenaga Ahli Bidang Hubungan LN Universitas Fort de Kock)

Hubungan Bilateral antara Indonesia Australia terus mengalami pasang surut. Hubungan kedua negara pernah mengalami puncaknya ketika kepemimpinan Perdana Menteri Paul Keating, kemudian terus menurun sampai pada titik nadir bawah waktu itu ketika Timor-Tomor lepas dari Indonesia.

Pasang surutnya hubungan kedua negara itu merupakan hal biasa, namun yang penting adalah, hubungan kedua negara tidak bisa dipisahkan dan ini harus selalu terus kita jaga. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama. Oleh sebab itu benar apa yang disampaikan Diplomat Indonesia yang pernah bertugas di Australia mengatakan, hubungan kedua negara digambarkan sebagai 'belahan jiwa'/soulmate.

Belum lama ini tulisan saya pernah juga dimuat di media Australia-Australia Institute of International Affairs, saya menggambarkan hubungan kedua negara bagai judul sebuah lagu yang pernah populer yaitu 'Benci tapi Rindu'. Untuk itulah kedua kepala negara akan selalu berusaha memperbaiki hubungan kedua negara. Saat ini hubungan kedua negara kembali kepada jalur yang tepat. President Jokowi bersama Perdana Menteri Australia sebelumnya Malcolm Turnbull dan yang sekarang Scott Morrison terus menjalin komonikasi yang baik dalam rangka membangun kerjasama bilateral kedua negara.

Begitu pentingnya Indonesia bagi Australia, melalui the Parliament of Commonwealth of Australian Join Standing Committee on Foreign Affairs Defence and Trade. Foreign Affair Sub Committee report, juga menekankan sebuah komitment yang baik antara kedua negara. Mereka telah rekomendasikan "Near Neighbors-Good Neighbors An Inquiry into Australia's Relationship with Indonesia. On the Recommendation 3, where the committee recommends that the Federal Government jointly invite the States to examine ways in which the educational relationship with Indonesia can be more cohesively managed" (Canberra, May 2004).

Rasanya tidaklah berlebihan apa yang mereka sampaikan diatas. Saya menggaris bawahi, penguatan hubungan kedua negara tidak saja dapat dilalui melalui hubungan G to G (Government to Governmen), tapi hubungan kedua negara dapat juga dilakukan melalui P to P (People to People) contact, dimana setiap anak bangsa dapat melakukannya, salah satunya melalui hubungan sosial budaya dan pendidikan. Sebagai pengajar bahasa, ini yang saya lakukan dalam waktu dua dekade terakhir.

Saya semakin optimis dengan ditunjuknya Ibu Penny Williams PMS sebagai Duta Besar Australia yang baru, dengan kemampuan beliau yang fasih berbahasa Indonesia dan memiliki gelar Bachelor of Asian Studies dengan fokus pada Indonesia, saya begitu yakin hubungan kedua negara kedepan akan lebih semakin kuat.

Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia DULU

Saya tidak akan berbicara banyak tentang pengajaran bahasa Indonesia di Australia Dulu, karena bila mengingat hal itu akan membuat hati ini menjadi sedih. Tapi yang jelas, pengajaran bahasa Indonesia di Australia dulu pernah membumi di Benua Kanguru ini. Sekolah-sekolah kebanjiran siswa dan sekolah pernah kekurangan tenaga pengajar. Beberapa faktor yang mendukung hal ini, selain amannya kondisi di tanah air waktu itu, ekonomipun sangat stabil. Tentu saja pengajaran bahasa ini dapat dijadikan sebagai penguatan hubungan kedua negara.

Pengajaran Bahasa Indonesia merupakan salah bidang study yang diminati oleh siswa diantara beberapa bahasa asing yang ditawarkan di berbagai sekolah di Australia juga di tingkat Universitas. Bahkan untuk level universitas, mereka memiliki pengkajian khusus tentang Indonesia dan bahasa Indonesia. Di sini pengajaran bahasa Indonesia mendapat ruang dan dapat dikatakan terlengkap dan terbesar. Dapat saya katakan, Australia merupakan pusat pengajaran bahasa Indonesia yang sangat luas cakupannya. Bahkan pengajaran bahasa Cina waktu itu jauh di belakang pengajaran bahasa Indonesia.

Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia SEKARANG

Keadaannya sekarang jauh berbeda, sebagai tenaga volunteer setidaknya hal itu yang saya amati dalam kurun waktu dua dekade terakhir.

Pemerintah kita belum dapat manfaatkan secara maksimal potensi pengajaran bahasa Indonesia waktu itu. Kita seolah terlena dengan maraknya pengajaran bahasa Indonesia dulu. Dari pengamatan saya, kita sedikit abai dalam melihat peluang ini. Sekarang keadaannya justru terbalik, Pelajaran Bahasa Cina sekarang sudah jauh meninggalkan pelajaran bahasa Indonesia kita.

Itu yang terjadi saat ini. Kita terlena sewaktu bahasa Indonesia pernah berjaya pada zamannya. Sekarang zaman kejayaan itu sudah hampir sirna. Saya hanya khawatir apabila pemerintah tidak melakukan langkah nyata, maka pengajaran Bahasa Indonesia di Benua Kanguru tidak tertutup kemungkinan hanya tinggal nama dan saya yakin seyakin yakinnya, cepat atau lambat, kejayaan yang hampir sirna itu akan menjadi kenyataan. Setidaknya itu yang dapat saya katakan.

Menyadari akan hal ini, saya pernah diskusi dan sampaikan persoalan ini secara langsung kepada pejabat pemerintah Australia melalui perwakilan mereka yang ada di Jakarta. Atas upaya tersebut, Dubes Gery Quilan-(Dubes Australia sebelum Ibu Penny Williams), pernah menuliskan kata ini "Recognition for his outstanding contribution to the Australia-Indonesia relationship and bridging our people closer together through promoting Indonesian language learning".

Saya juga menyampai hal ini kepada pejabat kementrian Luar Negeri kita. Selain itu saya juga sudah sampaikan kepada Pak Jokowi sewaktu beliau menjabat Gubernur DKI Oktober 2013. Tidak pernah terbayangkan dalam diskusi kami waktu itu dimana akhirnya beliau menjadi Presiden hanya berselang satu tahun kemudian. Sebagai sahabat, saya tentu saja bersyukur beliau dapat menerjemahkan apa apa yang kami diskusikan waktu itu. Hal ini dapat dilihat dan rasakan bagaimana hangatnya hubungan kedua negara saat ini seperti yang disampaikan di atas di mana beliau berupaya berbuat sesuatu dalam upaya menyelamatkan bahasa di Australia.

Kemunduran pengajaran bahasa Indonesia, bermula dari Reformasi 1997 yang bergulir di tanah air kita. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai persoalan domestik seperti krisis ekonomi 1998, kemudian dilanjutkan dengan berkembangnya issue-issue liar tentang politik di tanah air dan lain sebagainya. Berbagai persoalan di atas, secara tidak langsung memberikan dampak yang significan akan penurunan minat siswa dalam mempelajari bahasa Indonesia di berbagai sekolah di Australia.

Di sisi lain kita tidak bisa melulu menyerahkan beban ini kepada pemerintah melalui perwakilan KBRI/ KJRI kita di Australia. Pemerintah memang bertanggung jawab, namun karena keterbatasan personel kita yang ada di sana dan begitu luasnya wilayah kerja untuk menjangkau sekolah sekolah yang tersebar di seluruh negara bagian, maka perlu didukung oleh para pengajar dan pegiat bahasa, itulah peran kita masing-masing yang sesungguhnya.

Peran serta Provinsi di tanah air juga tidak kalah pentingnya. Untuk bagian timur Indonesia, seperti Bali, Jogakarta dan Bandung sudah lebih awal dalam membantu pemerintah dan saya tau provinsi-provinsi ini sangat aktif bekerjasama dengan lembaga-lembaga bahasa yang ada di Australia seperti dalam kegiatan study tour dan home stay dalam mendukung pengajaran bahasa bagi siswa / guru Australia di Indonesia.

Prospek Pengajaran Bahasa Indonesia di Australia MASA DATANG

Tidak ada salahnya Indonesia juga melihat pengajaran bahasa Indonesia di Australia itu dari sudut pandang kepentingan kita sendiri. Adalah suatu hal yang menguntungkan Indonesia kalau masyarakat Australia mengerti Indonesia dan masyarakatnya dengan lebih baik, lebih menyeluruh, dan lebih tepat. Indonesia, juga memerlukan hubungan kedua negara yang baik dan saling menguntungkan. Kalau orang Australia melihat Indonesia itu lebih dari sesuatu yang eksotik dan baik sebagai tempat hiburan, tetapi bahwa ia juga ditinggali oleh orang-orang yang punya aspirasi masa depan yang tidak banyak bedanya dengan Australia, maka Indonesia juga akan mendapat untung dari penglihatan mereka.

Guru sekolah di Australia merupakan duta-duta Indonesia yang paling baik. Merekalah yang mewakili Indonesia dalam menjelaskan kepada generasi Australia berikutnya tentang Indonesia. Merekalah yang menentukan wajah Indonesia di dalam fikiran anak-anak Australia. Mereka sangatlah penting dan perlu mendapat perhatian besar dari pihak Indonesia.

Selain Bali, Jogjakarta dan Bandung yang lebih dulu menjalin kerjasama dengan Australia, saya berharap Sumbar pun dapat berperan aktif mendukung dalam menyelamatkan pengajaran bahasa Indonesia di Australia. Secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Gubernur Gamawan Fauzi dan pak Irwan Prayitno dimana Sumbar punya peluang untuk menjalin hubungan kedua negara melalui Diplomasi Budaya secara khusus.

Sebagai pegiat dan pengajar bahasa Indonesia di Australia saya harus memulainya. Saya mencari inisiatif untuk berbuat sesuatu dan untuk wilayah barat Indonesia dapat saya mulai dari Sumatra Barat, dimana kebetulan saya sendiri juga berasal dari Sumatra Barat. Sebagai putra daerah saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan pengajaran bahasa Indonesia yang memang perlu diselamatkan. Saya percaya, tidak ada kata terlambat untuk bangkit kembali menyelamatkan bahasa Indonesia di Benua Kanguru ini. Yang jelas Indonesia punya kepentingan. Pengajaran bahasa Indonesia di Benua Kanguru ini merupakan sebuah asset yang sangat berharga. Saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan asset ini tanpa harus menunggu komando. Inisiatif ini sudah dimulai dalam waktu dua dekade terakhir dan itu saya lakukan secara Volunteer sampai sekarang dan tidak tau sampai kapan itu akan berakhir, mungkin sampai saya merasa capek. Kalau boleh saya meminjam Moto Semen Padang, "Kami telah berbuat sebelum yang lain memikirkan"

Beberapa langkah nyata saya lakukan. Tahun 2002 untuk pertama kalinya saya menjadi tenaga pengajar bahasa Indonesia di Tasmania-Australia mulai dari Hobart terus ke Lounceston, selama lebih kurang satu setengah bulan di sana.

Kemudian tahun 2006, saya membuat buku ajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing). Dengan bermodalkan keyakinan dan semangat yang tinggi, serta ditambah sedikit-banyak pengalaman mengajar BIPA, jadi juga buku tersebut. Saya minta dukungan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat untuk ikut berpartisipasi dalam pengadaan buku ajar tersebut karena buku ajar bahasa Indonesia yang sangat diperlukan oleh siswa di Australia. Alhamdulillah thn 2007, buku tersebut secara resmi telahdiserahkan oleh Wagub Sumbar Prof. Marlis Rahman, kepada pemerintah Australia melalui perwakilan Australia di Jakarta yang diterima langsung oleh Bapak Bill Farmer -- DUBES Australia di Jakarta. Sebuah buku pelajaran yang tidak hanya dapat digunakan sebagai media untuk mempelajari Bahasa Indonesia bagi penutur asing, buku ini juga mengenalkan beberapa informasi tentang Sumatra Barat melalui penyajian cerita singkat tentang Minangkabau dalam bentuk materi pelajaran. Dari bacaan singkat itu, lalu dimunculkan pertanyaan-pertanyaan, hingga pembaca (penutur asing) secara langsung dapat mengenal materi cerita yang dipromosikan, dengan demikian Sumatra Barat akan lebih dikenal di manca negara sambil belajar bahasa Indonesia.

Masih di tahun 2006, saya mendapatkan kesempatan diwawancara khusus oleh jurnalis Australia yang waktu itu ditugaskan di salah satu stasiun TV di Jakarta dan saya merupakan salah seorang yang diwawancarai waktu itu orang Indonesia, sementara 5 orang lainnya adalah orang Australia. Waktu itu tema yang diangkat adalah "Indonesia-Australia, Near Neighbor and Good Neighbor"

Tidak berhenti sampai di sini, tahun 2008 saya merancang Program Kunjungan Guru SUMBAR ke Australia. Boleh dikatakan program ini merupakan program kunjungan guru terbesar yang pernah ada. Kita dapat memaksimalkan guru-guru yang sudah ada. Sasarannya kegiatan ini, selain mengasah kemampuan disiplin ilmu mereka selama program berlangsung di Australia, mereka juga harus memiliki keahliah khusus seperti menari, silat dan lain sebagainya yang dapat mereka ajarkan di sekolah-sekolah dimana mereka ditugaskan. Para guru direkrut dan diseleksi secara ketat dari sekolah SMA Kabupaten Kota yang ada di Sumatra Barat.

Kemudian pada bulan September-2018, bekerja sama dengan Balai Bahasa dan Budaya Indonesia Victoria TAsmania (BBBIVTA) serta Pemerintah Kota Bukittinggi dan Padang Panjang, saya membuat sebuah program yang kami sebut dengan "Language Maintenance Program" yang didukung oleh Pemerintah kedua Kota tersebut. Hal ini sekaligus menjawab salah satu butir dari Expression of concern, the 8th biennial conference of the Australian Society of Indonesian Language Educators (ASILE) held at the Curtin University 3-5 July 2005, salah sutu butir rekomendasi yang disampaikan: "We express our hope that more regular cross-culture activities will be supported by the government of both Australia and Indonesia, for we believe that such activities can greatly improve mutual understanding and respect" dimana saya sendiri waktu itu termasuk salah seorang yang terlibat aktif dalam penyusunan draft rekomendasi tersebut. (*)


Drs. Gusrizal Dt. Salubuak Basa

Pengajar Bahasa Indonesia di Australia dan Tenaga Ahli Bidang Hubungan LN Universitas Fort de Kock